Seperti pendirinya, Salazar Slytherin,
asrama Slytherin menilai dari ambisi, kecerdikan (licik), bakat
kepemimpinan, daya akal yang panjang, kecenderungan melanggar aturan dan
(rata-rata) keturunan darah murni[5]. Buku juga menyatakan haus kekuasaan adalah karakteristik dari Slytherin. Binatang yang melambangkan Slytherin adalah ular, dan menggunakan warna hijau dan perak sebagai warna identitas. Bloody Baron
adalah hantu asrama Slytherin. Ruang rekreasi asrama ini juga terletak
di bawah tanah, namun berbeda dengan milik Hufflepuff. Ruang bawah tanah
Slytherin terletak di bawah danau sehingga memberikan ruangannya
semburat cahaya kehijauan, ruangan ini juga dilengkapi dengan
lampu-lampu hijau dan kursi-kursi berukir. Menurut Rowling, Slytherin
berhubungan dengan elemen air. Sifat-sifat Slytherin tergolong rawan
disalahgunakan untuk kejahatan. Itulah sebabnya banyak Pelahap Maut (termasuk Voldemort) berasal dari asrama ini. Harry Potter
sendiri sempat dipertimbangkan masuk asrama ini oleh Topi Seleksi
sebelum ia dimasukkan ke Gryffindor (karena Harry berkata "Jangan
Slytherin, jangan Slytherin", beberapa kali. Harry sendiri memiliki
beberapa sifat Slytherin seperti ambisi dan kecenderungan melanggar
aturan)[HP1][HP2]
Topi Seleksi mengklaim bahwa kemurnian darah adalah faktor dalam menyeleksi Slytherin, walaupun hal ini tidak disebutkan sampai buku kelima. Sampai akhir buku Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, kepala asrama adalah Profesor Severus Snape. Setelah Profesor Snape melarikan diri dengan Pelahap Maut, Profesor Horace Slughorn mengisi posisinya. Slughorn merupakan kepala asrama Slytherin untuk beberapa lama sebelum pensiun dan kembali ke Hogwarts pada tahun ke-6
Harry Potter. Tidak semua penyihir Slytherin jahat. Kepala asrama
Slytherin; Horace Slughorn ikut bertempur dalam Pertempuran Hogwarts dan
juga memimpin bala bantuan dalam pertempuran. Keluarga Malfoy adalah
contoh lainnya. Pada akhir Harry Potter dan Relikui Kematian mereka akhirnya memutuskan membelot dari Voldemort. Severus Snape
dapat dikatakan contoh "Slytherin sejati". Dengan kecerdikannya (dan
didorong rasa cinta yang besar), ia mampu menipu Voldemort selama
bertahun-tahun sebelum dibunuh di akhir cerita[HP7]. Setelah kekalahan terakhir Lord Voldemort,
Slytherin tidak lagi mengunggulkan kemurnian darah, tidak lagi
mempertahankan kemurnian darah. Walaupun begitu, reputasi gelapnya masih
hidup sampai hari ini.[6]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar